Rabu, 02 Maret 2016



Ahad pagi kemarin kami pergi ke klinik hewan langganan untuk melepas infus yang terpasang di kaki kucing kami, Opu. Saya bilang langganan karena sudah beberapa kali kami bolak-balik ke klinik tersebut untuk check up Opu yang tengah terserang virus. Meskipun begitu, berkunjung ke klinik tersebut seolah menjadi hiburan tersendiri buat balita kami. Karena di depan ruang tunggu terdapat LCD TV yang terpajang di tembok. Bukan TV nya yang menakjubkan bagi dia (meskipun seringnya memang seperti itu karena memang di rumah kami tidak ada TV dan balita kami selalu takjub akan TV di tempat-tempat yang kami kunjungi yang tentu ada TV nya, hehe...) tetapi tayangannya. Beberapa kali kami berkunjung kesana TV tersebut sedang menayangkan dunia hewan. Ya, TV langganan kesukaan balita saya. Pekan sebelumnya tentang ikan hiu yang menjadi monster bagi para pelayan, pekan sebelumnya lagi tentang domestic animals yang lucu-lucu, entah tayangan apa untuk kunjungan kali ini :)

Sesampai disana ternyata kami harus antri, karena disana sedang ada pasien yang harus ditangani. Nomer antrian sebelum kami pun masih setia menunggu dengan kucingnya yang ada di dalam keranjang. Kami duduk di kursi tunggu seperti biasa dan anteng menatap layar di tembok. Tapi tunggu, ternyata tayangan kali ini bukan TV langganan seperti biasa tetapi tayanga stasiun TV swasta. Tapi lumayanlah, tayangannya mengenai sebuah ekspedisi ke sebuah pulau di negeri ini. Di tayangan tersebut diceritakan tentang cara pembuatan sebuah kapal kalau tidak salah (suara tidak begitu jelas karena klinik agak bising dengan suara binatang dan kesibukan orang-orang) jadi beberapa kali men-shoot gambar kapal. Ini membuat balita kami tertarik dengan tayangan ini dan duduk manis sambil sibuk mengomentari kapal-kapal tersebut.

Kami masih diminta sabar untuk menunggu giliran karena antrian di depan kami sedang ditangani sekarang. Penanganan agak lama karena ternyata kucing yang dibawa tengah sakit hepatitis dan harus dirawat inap. Tayangan di TV pun berganti. Balita kami mulai cari kesibukan lain seperti biasa (mondar-mandir cari lapak lain,wew...) karena tidak cocok dengan tayangan yang ada; tentang fashion. Tayangan yang berjudul 'dua jilbab' (bukan judul sebenarnya) mulai mewarnai layar. Tayangan diawali dengan pengenalan terhadap duo cantik presenternya. Dilihat dari presenternya saya sudah mulai bisa menebak kemana arah tayangan tersebut. Apalagi dilihat dari dandanan hijab (kata mereka hijab dan sering disebut hijabers) duo presenter ini yang modis.

Di tengah acara terdapat peragaan busana hijaber versi masing-masing presenter (sepertinya begitu karena saya hanya lihat dari tulisan yang terpampang, lagi-lagi saya tidak bisa menangkap suaranya). Satu demi satu model keluar memamerkan busananya yang berlokasi di kolam renang di sebuah hotel. Tapi ternyata peragaan ini berbeda dengan peragaan yang biasa dilakukan di catwalk. Di peragaan ini sangat ditampilkan detail dari busana tersebut; mulai dari bahan, potongan busana, detail hijab, detail lidah kancing sampai kolor celananya (saya lupa istilahnya apa). Tentun saja dengan shoot yang begitu dekat dan diperbesar agar detail lebih jelas terlihat. Dari situ saya mulai risih dengan tayangan itu. Shoot dekat hijab dengan wajah yang selalu tersenyum manis, shoot dimulai dari arah dagu sang model. Wajah ayu dengan make up sempurna mewarnai layar kaca berukuran 34 inchi. Lalu berlanjut ke detail manset kemeja, jari tangan yang lentik sang model memamerkan detail manset tersebut. Berlanjut lagi ke lidah kancing kemeja, shoot dekat memamerkan detail tersebut yang terpampang jelas di depan dada sang model dengan tangan yang menjelujur di sepanjang lidah kancing kemeja tersebut. Ah, dari sini saya sudah mulai gerah dengan tayangan tersebut. Masih dilanjutkan dengan detail celana tanpa resleting tetapi berupa ikatan-ikatan tali yang saya sendiri lupa namanya di depan alat vital. Stop, stop. Saya benar-benar risih dengan tayangan ini.

Tayangan yang berbeda jauh dari konteks judulnya, dua jilbab. Jilbab yang hakikatnya juga dipakai sebagai tameng badan agar badan tidak terumbar sedemikian rupa justru disini dipamerkan dengan dalih untuk melihat detail busana yang katanya 'hijab' itu. Prinsip hijab juga sepertinya sudah ditanggalkan, dada yang begitu mencolok kelihatan serta saya pun bisa melihat secara gamblang bentuk tubuh sang model meski kemeja-kemeja yang dipakai memang terlihat 'agak' gombrong. Saya ber-husnudzon bahwa yang meng-shoot gambar adalah seorang kamerawoman bukan kameraman. Akan tetapi lihatlah pemirsa tayangannya siapa, apa bisa menjamin kalau pemirsanya adalah hanya para wanita sedangkan TV swasta tersebut menjelajah ke pelosok negeri? Tidak usah jauh-jauh lah sampai ke pelosok negeri, saat tayangan tersebut berlangsung di klinik ada tambahan seorang mas-mas yang antri dibelakang saya untuk grooming kucing persianya. Saya sebagai perwakilan wanita di ruangan itu saja merasa malu akan cara peragaan model tersebut (lah saya siapanya model tersebut coba, hehe...)

"Aduh mak, emak-emak ini ndeso deh, jilbab itu sekarang sudah menjadi fashion. Harusnya bersyukur karena dengan di-fashion-kan jilbab itu jadi tambah dikenal masyarakat. Orang yang dulu enggan berjilbab pun akan tertarik untuk berjilbab tanpa kita harus mengadakan pengajian-pengajian. Jilbab kan wajib mak sedangkan orang kalau disuruh ikut pengajian juga susah. Alhamdulillah dong tanpa pengajian pun orang akan berbondong-bondong memakai jilbab." Komentar seperti ini bisa didapatkan dari orang yang melek fashion, baju dan segala aksesoris yang dipakai selalu up to date. Tapi maaf kalau saya bilang, justru seperti inilah yang tidak berprinsip dan cenderung ikut-ikutan. Yang namanya jilbab dari dulu saat  syari'at jilbab itu diturunkan hingga esok kiamat pun masih tetap sama, pakaian longgar yang menutupi seluruh badan, yang tidak membentuk tubuh, yang menutup dada, yang tidak tipis tidak menerawang dan yang yang lainnya. Tidak ada itu yang katanya jilbab/hijab yang mengikuti tren atau model. Adakah menemukan Al Qur'an itu mengikuti tren dan model? Tentu saja tidak! Dari Al Qur'an diturunkan hingga kiamat kelak juga seperti itu adanya, tidak berubah sama sekali. Lagipula memakai jilbab juga tidak butuh pengajian (kalau misalnya ada juga kajian seperti itu bagus juga untuk menambah ilmu) tapi penting untuk dikaji. Kaji ilmunya dengan benar. Jangan sembarangan ikut-ikutan. Kalau kita sudah tau ilmu dan syari'at nya insya Allah langkah yang diambil pun akan tepat.

Di dalam QS. An Nur ayat 31 disebutkan, "... Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan..." Ini bisa diartikan larangan berlaku tabarruj didepan umum. Memamerkan perhiasan yang dipakai didepan umum dan bersolek. Adapun bersolek bagi wanita yang sudah bersuami didepan suaminya justru sangat dianjurkan untuk menyenangkan hati suami. Beda cerita bagi wanita yang belum menikah, mereka bersolek untuk siapa? Senyum sembarangan diumbar untuk siapa? Yang ini malah justru merelakan tubuhnya untuk di shoot secara dekat dengan dalih untuk memperjelas detail baju. Jilbab juga semestinya digunakan untuk mengendalikan diri, membatasi tingkah laku kita dan tentunya sebagai pembeda antara kita wanita muslim dengan wanita non muslim lainnya. Astaghfirullah... Ini juga berlaku bagi saya pribadi.

Di awal tahun 2000-an saat jilbab tidak sebanyak sekarang, di sekolah-sekolah pun masih sedikit yang memakai (tahun pertama SMP, tahun berikutnya jilbab sudah mulai menjamur. Ini masih di taraf sekolah) saya mulai mengenakan jilbab untuk di rumah dan segala aktifitas sehari-hari. Di kampung saya mungkin baru saya yang membiasakan jilbab di rumah pada saat itu (saudara jauh saya juga sebenarnya sudah banyak yang memakai jilbab untuk kesehariannya, tapi saat itu mereka tidak tinggal di kampung saya, mereka tinggal di perantauan). Pada awalnya saya sangat merasa malu, mau keluar rumah pakai jilbab rasanya iya tapi tidak. Lepas jilbab pakai lagi, lepas lagi pakai lagi, itu yg terjadi di dalam rumah saat hendak beraktifitas di luar rumah. Akhirnya saya nekat memakai jilbab ini. Deg-degan luar biasa. Jalan hanya menunduk karena merasa diikuti oleh ekor mata tetangga. Sampai ada seseorang yang bilang saat itu kepada saya, "Kalau aku yang penting yang dijilbabi hatinya dulu, baru nanti jilbab kerudung yang dipakai. Kalau sekarang pakai jilbab tapi hatinya belum dijilbabi aku takut, itu kan konsekuensinya berat..." Waktu itu saya ingin menyanggah, lho justru konsekuensinya lebih berat kalau kita tidak memakai kan? Bukan masalah hati karena memakai jilbab itu menuntut amalan badan bukan hanya sekedar amalan hati atau niat. Tapi karena waktu itu saya masih deg-degan awal pakai jilbab dan orang yang bilang seperti itu lebih tua dari saya, saya hanya tersenyum dan diam saja. Hanya dalam hati bilang, ihh kayak judul Qasidahan Nasidaria saja jilbab hati, hehe...

Berbeda dengan saat ini yang dengan mudahnya kita menemukan muslimah yang memakai jilbab. Justru sekarang jadi aneh kalau ada muslimah yang tidak memakai jilbab apalagi untuk aktifitas luar rumah seperti saat bepergian. Dulu saat saya mencari jilbab di pasar, model yang ada hanya itu-itu saja; kain segi empat yang dipakai menjadi kerudung segitiga. Jilbab instan pun tidak semua toko menyediakan. Tapi sekarang, tidak hanya di jalanan kota besar, di jalanan pelosok pun kita akan sangat mudah menemukan gerai jilbab yang menyuguhkan beraneka ragam bentuk dan merk jilbab. Mulai dari jilbab yang dipakai penjual sayur di pasar hingga jilbab yang katanya keluaran artis anu menjamur luas. Maka dari itu mungkin komentar yang didapatkan akan berbeda jika dibanding dengan komentar tahun 2000an lalu, "Lho jilbab gini-gini (jilbab ngetrend yang terkadang belum memenuhi syari'at) yang penting aku sudah melaksanakan kewajibanku sebagai muslimah. Kewajibanku gugur. Berubah ke arah lebih baik itu butuh proses, tidak bisa seketika saat itu juga berubah total. Butuh kesiapan mental juga..."  Senada dengan alasan jaman dulu sebenarnya. Sudahlah, kalau sudah tau bahwa itu kewajiban yang memang harus dilaksanakan, kenapa harus melangkah setengah-setengah bukan totalitas? Toh sama-sama kepala tertutup juga. Ibarat kata sudah nanggung. Tidak usahlah takut dibilang ketinggalan jaman karena jilbab itu tidak termakan oleh jaman. Tidak perlu pula terlalu mengikuti trend yang selalu berputar dan cenderung ikut-ikutan,  toh syari'at jilbab dari dulu hingga kiamat kelak tetaplah sama tidak berubah. Melaksanakan kewajiban sesuai syari'atnya tanpa perlu modifikasi.

Suatu ketika saya iseng masuk ke sebuah forum yang sedang membahas tentang LGBT, isu yang tengah hangat akhir-akhir ini. Diskusi hangat yang berakhir seperti debat kusir. Tapi ada satu postingan yang bagus dari salah satu member. Kurang lebih isinya begini:
"Fenomena LGBT sekarang ini justru semakin membuktikan kebenaran syari'at Islam. Islam mewajibkan muslimahnya untuk menutup aurot. Ini membuat para lelaki akan merasa penasaran dengan apa yang berada dibalik jilbab itu. Apalagi bagi yang memakai cadar, lelaki akan lebih penasaran hanya dari matanya yang indah itu. Dari situ lelaki akan 'menggilai' perempuan. Tapi coba tengok fenomena yang terjadi sekarang, di jalan-jalan, di mal, di pasar dan di tempat umum lainnya, kita akan mudah sekali menemukan wanita yang dengan sukarela mengumbar aurot mereka. Lelaki yang melihat memang akan terpesona dengan pemandangan di depannya. Tapi hanya sesaat saja karena lelaki itu pasti mikir 'isinya sama saja dengan yang barusan lewat'. Dari situ lelaki mulai tidak tertarik dan penasaran lagi dengan wanita, lha asetnya sudah dibeberkan secara cuma-cuma. Lelaki pun akhirnya akan mulai bosan --apalagi dengan laki-laki yang banyak bergaul dengan perempuan-perempuan cantik terutama di dunia entertaintment-- mereka akan mencari sesuatu yang berbeda yang lebih membuat penasaran. Maka muncullah fenomena LGBT ini." Nah kan, sungguh luar biasa kalau syari'at Islam yang satu ini ditegakkan dengan sungguh-sungguh sesuai konteksnya. Akan banyak manfaat yang diambil oleh ummat manusia lain. Hanya saja sekarang syari'at itu 'agak' dimodifikasi menjadi sebuah tren yang sudah agak melenceng dari konteksnya. Seperti dengan tayangan yang saya ambil contoh diatas, berhijab tapi tidak sesuai syari'at. Jangan sampai kita menjadi bagian yang disabdakan Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam tentang salah satu tanda-tanda kiamat; berpakaian tapi telanjang. Kita mungkin sudah merasa melaksanakan kewajiban menutup aurat tapi ternyata tidak sesuai dengan syari'at yang dianjurkan. Bukankah itu hanya sia-sia belaka?





Sabtu, 27 Februari 2016



Ya, seperti inilah nasib tulisan seorang ibu rumah tangga yang masih mempunyai 'seorang' balita laki-laki usia 2,5 tahun; sering macet. Ibarat jalan aspal berkedudukan rendah yang sering becek kena air hujan dan luapan selokan di kiri kanan bahu jalan bagi kendaraan bermotor; pelan-pelan khawatir ban slip karena jalan berlobang tidak rata bahkan kadang mandeg begitu saja mesin mati kelelep air luapan selokan (pengalaman pribadi :D). Ditambah dengan suasana hati yang naik turun menjadikan lanjutan kisah ini agak molor, hehe...

Tapi memang, mempunyai balita dengan usia-usia seperti saat ini  (apalagi laki-laki yang katanya lebih aktif dari balita perempuan, entahlah...) memang cukup menguras fikiran dan tenaga. Keingintahuan yang semakin meningkat diiringi daya eksplorasi yang semakin membuat saya sering-sering mengurut dada. Luapan perasaan dan emosi pun semakin memperlihatkan taji nya. Kepemilikan akan 'abi dan ibu' juga tidak jauh beda. Apalagi saya sebagai ibu yang sehari-hari selalu membersamainya, tidak ada satu kegiatan pun yang tidak memakai kata 'ibu'. Selalu ibu, sama ibu, harus ibu, tidak mau kalau tidak dengan ibu, wew... Mengharukan memang seakan-akan saya lah yang selalu dibutuhkan setiap saat  meskipun suatu saat nanti semua itu pasti akan luntur (sedih...).

Tapi jika suasana hati sedang tidak menentu, rasa capek dengan aktifitas rumah tangga lain yang tidak pernah ada jedanya (apalagi tanpa ada orang lain yg turut membantu menyelesaikan pekerjaan rumah), pasti langsung senewen sendiri, "apa-apa kenapa mesti ibu,  sih...?". Karena konon katanya, seorang ibu (apalagi seorang ibu muda yang masih mempunyai sisa-sisa kejayaan dan kebebasan saat masih gadis, hehe...) yang mempunyai seabrek aktifitas rumah dan mengasuh balita yang super duper lincah hendaknya ada waktu untuk 'me time'. Ada saatnya waktu untuk sendiri tanpa ada gangguan dari si lincah, merileksasi otot-otot  dan pikiran yang tegang, menyalurkan hobi positif yang tertahan dan tertunda, tidur siang sebentar, atau bahkan hanya sekedar duduk-duduk selonjor saja. Biasanya itu hanya bisa didapatkan jika si kecil sedang terlelap, itu pun bukan 'me time' sempurna karena jika si kecil sedang terlelap pasti ada saja kerjaan rumah yang gatal ingin segera dipegang. Nah, saat-saat seperti inilah peran suami diperlukan. Untuk sementara tugas mengurus anak dialihkan ke suami, tentu dengan ridha dan pengertian suami ya, karena suami pasti juga sudah terlalu capek dengan urusan di kantornya. Kerja sama dan kekompakan suami istri memang harus dijaga dalam mengasuh anak agar tidak ada ketimpangan. Dan tujuan mempunyai anak juga harus jelas kan, anak bukan hanya sekedar investasi akhirat bagi kedua orang tuanya, lebih dari itu anak adalah amanah dari Allah yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan. Seyogyanya mengasuh anak agar menjadi shalih-shalihah juga dipikul bersama.

Tapi meskipun begitu, mempunyai balita itu sangat menyenangkan. Selincah apapun balita tapi dia tetaplah pribadi yang polos dan apa adanya. Kemampuan indranya yang masih terbatas menjadi hiburan tersendiri. Kelucuan-kelucuan spontan tanpa rekayasa. Lihatlah saat dia lincah tengkurap, glundang-glundung diatas kasur seperti bola. Mulai saat merangkak, (maaf) pantat gembil goyang-goyang mengejar botol mineral. Sudah bisa mulai berjalan, jalan lucu mirip anak habis disunat. Jalan sudah lancar mulai bisa lari, segala perabot rumah ditabrak karena rem nya kurang pakem. Mulai bisa bicara, bahasa pelo dan bahasa planet sudah mulai keluar. Nah yang ini kadang saya sampai bengong berpikir keras, ini anak sebenarnya minta apa sih...? Jangan lupa kalau balita sedang bicara, perhatikan juga mimik mukanya yang manyun monyong seru menggemaskan. Tingkah polah yang ikut-ikutan orang dewasa disekitarnya (jujur saya masih heran dan bingung dengan tingkah baru balita saya. Kadang memainkan mainan kecil berwujud stick di mulutnya, keluar masuk mulut mirip orang yang sedang asyik merokok. Meniru siapa coba orang abinya juga tidak pernah merokok :speechless: ).

Itu pula yang dialami oleh Rasulullah terhadap dua cucu kesayangan Beliau; al-Hasan dan al-Husain. Beliau sangat mencintai kedua cucunya ini.
Al-Hasan merupakan pemimpin pertama dari Ahlul Bait. Dia lahir dari leluhur yang mulia; suci benihnya dan indah hasilnya. Dia adalah pemimpin dengan nasab yang mulia. Dia adalah cucu tersayang pertama Rasulullah yang lahir pada bulan Ramadhan tahun 3 H.
Adapun al-Husain, dia merupakan pemimpin kedua dari keturunan Ahlul Bait. Di dalam dirinya tersemat kemuliaan akhlak yang berpadu dengan kemuliaan nasab. Seorang pemimpin yang dicinta, sosok bijak dan figur yang dekat di hati setiap orang. Dialah cucu tersayang kedua Rasulullah yang lahir pada bulan Sya'ban tahun 4 H. Jeda waktu antara persalinan Fathimah yang pertama dan kehamilannya yang kedua hanya satu kali masa suci.

Abdullah bin Umar menyebutkan; Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berkata tentang al-hasan dan al-Husain ini:
"Keduanya adalah raihanah-ku di dunia ini."
Raihanah adalah sejenis tumbuhan yang biasa dicium karena berbau harum. Melalui sabda 'di dunia ini', Rasulullah ingin menunjukan bahwa al-Hasan dan al-Husain merupakan salah satu wangi duniawi yang dianugerahkan kepada Beliau. Artinya, Allah memuliakan Beliau -salah satunya- melalui kehadiran kedua cucunya tersebut, dan Dia menjadikan Beliau mencintai mereka. Dan, karena umumnya orang dewasa suka mencium bau wangi anak-anak dan mengecup mereka, maka keduanya pun diibaratkan raihan yang mengeluarkan aroma wangi.

Abdullah bin Umar juga menuturkan tentang kepemimpinan al-Hasan dan al-Husain bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
"Al-Hasan dan al-Husain adalah dua pemimpin para pemuda penghuni surga. Sementara ayah mereka berdua lebih baik daripada keduanya"

Riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya; Abu Hurairah menuturkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
"Siapa saja yang mencintai keduanya (al-Hasan dan al-Husain), berarti dia mencintaiku; dan siapa saja yang membenci keduanya, berarti dia membenciku."

Dan juga sabda Beliau:
"Husain adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian dari Husain. Allah akan mencintai orang yang mencintai Husain. Husain adalah salah satu cucuku (dari anak perempuanku)."

Dibawah ini ada sepenggal kisah pelaziman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan keluarga Beliau akan susu kambing yang tidak terlepas dari kecintaan Beliau terhadap keluarganya.

Kisah ketiga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama keluarganya 

Rasulullah begitu mencintai al-Hasan dan al-Husain. Jika tidak mendapati keduanya di masjid, Beliau akan mencari mereka di rumah putrinya. Meskipun kesibukan dalam mengemban risalah Islam begitu padat, Beliau tetap mengalokasikan waktunya yang sangat berharga untuk al-Hasan dan al-Husain, serta kedua orang tua mereka. Seperti itulah wujud kecintaan Beliau terhadap keluarganya. Bahkan, Beliau menyampaikan kabar gembira bahwa mereka akan tetap bersama-sama di taman Surga kelak.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya; Ali bin Abu Thalib menuturkan: Rasulullah pernah masuk ke rumahku saat aku sedang tidur lelap. Tidak lama kemudian al-Hasan atau al-Husain minta minum. Maka Rasulullah menghampiri kambing betina yang belum pernah beranak milik kami. Lalu Beliau memerah susunya, dan air susunya pun banyak keluar. Al-Hasan lalu mendekati Beliau, namun Beliau menjauhkan susu itu darinya.

Melihat itu, Fathimah bertanya: "Wahai Rasulullah, sepertinya dia -al-Husain- yang lebih engkau cintai." Beliau menyanggah: "Tidak,  tetapi dia (al-Husain) yang lebih dahulu meminta minum." Setelah itu, Beliau bersabda: "Sungguh, aku, kamu, dua anak ini dan laki-laki yang sedang terlelap itu -maksudnya Ali- akan berada di tempat yang sama pada hari Kiamat kelak."

Perpisahan keduanya dengan Rasulullah terjadi saat mereka masih anak-anak, yakni di Senin pagi tanggal 12 Rabi'ul Awwal tahun 11 H.

Semoga bermanfaat...

Kamis, 18 Februari 2016



Masih lanjutan dari postingan sebelumnya tentang pelaziman  Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam akan susu kambing. Kisah ini terjadi saat Beliau akan melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah bersama shahabatnya; Abu Bakar ash Shiddiq

Kisah kedua saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berhijrah
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meninggalkan rumah pada malam hari tanggal 27 Shafar tahun 14 dari nubuwah menuju rumah sahabatnya, Abu Bakar Radhiyallahu Anhu, lalu berdua mereka meninggalkan rumah dari pintu belakang untuk keluar dari Makkah secara tergesa-gesa sebelum fajar menyingsing. Jalur utama ke Madinah yang mengarah ke utara adalah jalur satu-satunya, namun hal ini memungkinkan bagi Quraisy (orang-orang Quraisy mencari Beliau mati-matian) untuk menemukan Beliau. Untuk itu Beliau justru mengambil jalur yang berbeda -yang mengarah ke Yaman- dari Makkah ke arah selatan.

Beliau menempuh jalan ini sekitar lima mil hingga tiba di sebuah gunung yang disebut gunung Tsaur. Ini termasuk jalan yang menanjak, sulit dan berat, banyak bebatuan besar yang harus dilewati. Beliau tidak mengenakan alas kaki. Bagaimanapun keadaannya, yang pasti Abu Bakar sempat memapah Beliau saat sudah tiba di gunung dan mengikat badan Beliau dengan badannya hingga tiba di gua di puncak gunung. Gua itu dikenal dengan nama gua Tsaur. Setibanya di mulut gua, Abu Bakar berkata, "Demi Allah, janganlah engkau masuk ke dalamnya sebelum aku masuk terlebih dahulu. Jika di dalam ada sesuatu yang tidak beres, biarlah aku yang terkena, asal tidak mengenai engkau."

Lalu Abu Bakar masuk ke dalam gua dan membersihkan kotoran yang menghalangi. Disebelahnya dia mendapatkan lubang. Dia merobek mantelnya menjadi dua bagian dan mengikatnya ke lubang itu. Robekan satu lagi dia balutkan ke kakinya. Setelah itu Abu Bakar berkata kepada Beliau, "Masuklah!" Maka Beliau pun masuk ke dalam gua, Beliau merebahkan kepala di atas pangkuan Abu Bakar dan tertidur.
Tiba-tiba Abu Bakat tersengat hewan dari lubangnya. Namun dia tidak berani bergerak karena takut akan mengganggu tidur Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam. Dengan menahan rasa sakit, air matanya menetes ke wajah beliau. "Apa yang terjadi denganmu wahai Abu Bakar? " tanya Beliau. Abu Bakar menjawab, "Demi ayah dan ibuku menjadi jaminanmu, kakiku digigit binatang." Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam meludahi bagian yang digigit sehingga hilang rasa sakitnya.

Mereka berdua bersembunyi di dalam gua selama tiga malam, yaitu malam Jum'at, malam Sabtu dan malam Ahad. Jika malam hari Abdullah bin Abu Bakar selalu berada bersama mereka. Dia meninggalkan keduanya pada akhir malam dan pagi harinya menyelusup ke tengah orang-orang Quraisy untuk mengetahui kondisi di Makkah dan menyampaikannya kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, sehingga seperti orang yang tidak pernah kemana-mana. Abu Bakar juga mempunyai pembantu, Amir bin Fuhairah yang bertugas menggembala domba-dombanya. Pada petang hari dia menggembala didekat gua, sehingga mereka berdua bisa mengambil susunya untuk diminum. Amir menunggu domba-domba itu hingga akhir malam. Begitulah yang dia lakukan selama tiga malam itu. Kemudian Amir menggiring domba-dombanya mengikuti langkah kaki Abdullah bin Abu Bakar setelah meninggalkan gua menuju Makkah, untuk menghilangkan jejak kakinya.

Dari petikan kisah diatas, ada beberapa point penting yang bisa kita jadikan hikmah:

Point pertama 
Beratnya perjalanan hijrah itu. Selain Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dikejar-kejar oleh orang-orang Quraisy yang hendak ingin membunuhnya, perjalanan yang ditempuh pun tidaklah mudah. Beliau bersama Abu Bakar melewati jalur yang tidak biasa dilewati dan medannya pun sangat tidak mudah.

Point kedua
Kesetiaan dan keutamaan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu. Abu Bakar tahu bahwa menyertai Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam berhijrah berarti nyawanya pun terancam. Tapi Abu Bakar tetap menyertai Beliau bahkan perbekalan pun sudah dipersiapkannya jauh-jauh hari. Dalam riwayat Al-bukhari disebutkan, Abu Bakar Ash-shiddiq merawat dan memberi makan dua ekor unta yang ada padanya dengan pohon samur selama empat bulan. Ia sejak awal telah menyiapkan sarana prasarana untuk hijrah, mengatur semua perbekalannya dan memperdayakan keluarganya untuk membantu Rasulullah. Pun saat perjalanan hijrah itu, Abu Bakar rela mati dan rela melakukan apa pun demi keselamatan Rasulullah dan suksesnya hijrah itu. Tidak heran jika Abu Bakar disebut didalam QS. At-Taubah: 40 karena keutamaannya ini:
"Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyirikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, " Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Dia menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Point ketiga
Sifat amanah yang dipunyai oleh keluarga Abu Bakar hingga pembantunya. Mereka bersinergi bersama-sama demi suksesnya hijrah tersebut dengan sifat loyalitas yang sangat tinggi. Tapi memang, orang Arab jaman dahulu terkenal sangat anti dengan sifat khianat maka dari itu dahulu mereka sangat menjunjung suku dan kabilahnya. Mereka sangat berusaha untuk menepati janji.

Point keempat 
Point terakhir dan inilah point yang utama dari tulisan ini sebenarnya :D. Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam minum susu kambing/domba fresh tanpa proses apa pun. Sama seperti susu kambing kambing kami ini, susu kambing segar mentah yang diambil langsung dari peternak. Untuk menjaga kesegaran dan kandungan susu ini, kami masukkan ke dalam freezer yang bertahan hingga 35 hari dari hari pemerahan. Menjadikan wujud susu ini beku atau frozen.


Semoga bermanfaat dan selamat mencoba susu kambing cair murni yang dibekukan ini ya... Dari berbagai sumber.


Sabtu, 13 Februari 2016



Medio Februari yang ditemani dengan gerimis hujan sehari-hari. Jadi berfikir, apakah hiponim yang terkenal di jaman SD bahwa Januari itu 'hujan sehari-hari' bisa diterapkan di musim penghujan ini mengingat bulan Januari kemarin cuaca panas masih saja terus menemani selama hampir sebulan lebih. Baru ungkapan itu -Alhamdulillah- bisa diterapkan di bulan Februari ini. Penting dibahas? Yah, anggaplah tulisan ini sebagai prolog iseng karena sudah lama tidak nulis dan abaikan saja, hehe..

Masih tentang susu. Pernah tidak berfikir, sejak kapan ya manusia itu mengonsumsi susu dan turunannya? Kalau saya sebagai orang awam yang berpengetahuan dangkal akan langsung menjawab, mungkin sejak zaman Nabi Nuh. Sejak Allah menyuruh membuat kapal dan membawa orang-orang beriman dengan binatang berpasang-pasangan, seluruh makhluk dimuka bumi ini binasa. Yang ada tinggal makhluk yang selamat di kapal Nabi Nuh. Dan mungkin saja didalam kapal itu terdapat sepasang sapi, dan dan dan wallahu a'lam, hehe... Namanya juga pemikiran orang awam yang dangkal ilmu.

Beda cerita dengan ilmuwan dengan segala kapasitas dan sarana yang dimiliki. Mereka akan melakukan riset dan mengungkap fakta yang mungkin hanya sebagai fikiran sambil lalu orang awam saja. Dan dari riset itu, konon susu sudah dikonsumsi manusia sejak 5000 tahun yang lalu.

Penelitian ini memberi bukti protein diperoleh langsung dari susu sapi, domba, dan kambing. Dadih, sebagai produk susu dikonsumsi manusia setidaknya sejak 5000 tahun lalu. Hipotesis ini diperkuat dengan bukti isotop sebelumnya pada lemak susu yang diidentifikasi pada tembikar dan peralatan masak masyarakat awal. Sampai saat ini sulit untuk menyelidiki kedua adaptasi susu dalam genetik manusia, dan sebagian bukti arkeologi sangat buruk.

Penemuan protein susu dalam gigi manusia memungkinkan ilmuwan untuk menyatukan bukti dan membandingkan sifat genetik serta perilaku budaya tertentu yang hidup ribuan tahun yang lalu. Bukti langsung adanya konsumsi susu diawetkan dalam plak gigi manusia dari Zaman Perunggu sampai sekarang.

Sering saya mendengar, susu (terutama susu kambing) sebagai sunah Rasul. Boleh saja orang beranggapan begitu karena memang Rasulullah melazimi susu kambing ini. Bahkan susu lain seperti susu unta pun demikian, apalagi dengan kondisi alam Jazirah Arab yang gersang dan banyak padang pasir (Kata 'Arab' secara etimologis berarti padang pasir, tanah gundul dan gersang, tiada air dan tumbuhnya tanaman). Mungkin juga ini menjadi alasan mengapa susu sapi tidak lazim di Arab, karena sapi biasanya diternak di tempat dengan suhu sejuk dingin.

Tidak sedikit riwayat yang mengabarkan tentang pelaziman susu ini di zaman Rasulullah. Mungkin dibawah ini ada beberapa contohnya.

Kisah pertama tentang kisah ibu susuan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam 
Tradisi permanen dilakukan di kalangan Bangsa Arab yang relatif sudah maju, mereka mencari wanita-wanita yang bisa menyusui anak-anaknya, sebagai langkah untuk menjauhkan anak-anak itu dari penyakit yang biasa mewabah di daerah yang sudah maju, agar tubuh bayi menjadi kuat, otot-ototnya kekar dan agar keluarga yang menyusui bisa melatih bahasa Arab. Maka Abdul Muththalib mencari para wanita yang bisa menyusui Rasulullah. Dia meminta kepada seorang wanita dari Bani Sa'd bin Bakr agar menyusui beliau, yaitu Halimah bin Abu Dzu'aib, dengan didampingi suaminya, Al Harits bin Abdul Uzza, yang dijuluki Abu Kabsyah dari kabilah yang sama.
Inilah penuturan Halimah tentang berkah yang dibawa putra susuannya ini:
"Itu terjadi pada mada paceklik, tak banyak kekayaan kami yang tersisa. Aku pergi sambil naik keledai betina berwarna putih milik kami dan seekor unta yang sudah tua dan tidak bisa lagi diambil air susunya setetespun. Sepanjang malam kami tidak pernah tidur karena harus meninabobokan bayi kami yang terus-menerus menangis karena kelaparan. Air susuku juga tidak bisa diharapkan. Kami masih tetap mengharapkan adanya pertolongan agar ada jalan keluar. Aku pun pergi sambil menunggang keledai betina milik kami dan hampir tak pernah turun dari punggungnya, sehingga kondisi keledai pun semakin lemah. Akhirnya rombongan kami tiba di Mekah dan kami langsung mencari bayi yang bisa kami susui. Setiap wanita dari rombongan kami yang ditawari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pasti menolaknya, setelah tau bahwa beliau adalah anak yatim. Tidak bisa diharapkan imbalannya, sedangkan kami mengharapkan imbalan yang cukup memadai dari bapak bayi yang hendak kami susui. Kami semua berkata, 'Dia anak yatim'. Tidak ada pilihan bagi ibu dan kakek Beliau, karena kami tidak menyukai keadaan seperti itu. Setiap wanita dari rombongan kami sudah mendapatkan bayi yang disusuinya, kecuali aku. Ketika kami sudah siap-siap untuk kembali, suamiku berkata kepadaku, "Demi Allah, aku tidak ingin kembali bersama teman-temanku tanpa membawa seorang bayi yang kau susui." "Demi Allah, akupun berharap demikian." Jawab Halimah. "Aku benar-benar akan mendatangi anak yatim itu dan membawanya."

Halimah melanjutkan perkataannya, "Aku pun menemui bayi itu dan siap membawanya. Ketika sedang menggendongnya seakan-akan aku tidak merasa repot karena mendapat beban yang lain. Aku segera menghampiri hewan tungganganku, dan disaat puting susuku kusodorkan kepadanya, bayi itu bisa menyedot air susu sesukanya dan meminumnya hingga kenyang. Anak kandungku sendir juga bisa menyedot air susu sepuasnya hingga kenyang, setelah itu keduanya tertidur pulas. Padahal sebelum itu, kami tidak pernah tidur sekejap pun karena mengurus bayi kami. Suamiku menghampiri untanya yang sudah tua. Ternyata air susunya menjadi penuh. Maka kami pun memerahnya. Suamiku bisa minum air susu unta kami, begitu pula aku, hingga kami benar-benar kenyang. Malam itu adalah malam yang terasa paling indah bagi kami.
"Demi Allah, tahukah engkau wahai Halimah, engkau telah mengambil satu jiwa yang penuh berkah," kata suamiku pada esok harinya.
"Demi Allah, aku pun berharap yang demikian itu," kataku.

Halimah melanjutkan penuturannya, "Kemudian kami pun bersiap-siap pergi dan aku bergegas menunggang keledaiku. Semua bawaan kami juga kunaikan bersamaku di atas punggungnya. Demi Allah, setelah kami menempuh perjalanan sekian jauh, tentulah keledai-keledai mereka tidak akan mampu membawa beban seperti yang aku bebankan di atas punggung keledaiku. Sehingga teman-temanku berkata kepadaku, "Wahai putri Abu Dzu'aib, celakalah engkau! Tunggulah kami! Bukankah ini keledaimu yang pernah kau bawa bersama kita dulu?"
"Demi Allah, itu benar. Ini adalah keledaiku yang dulu, " kataku.
"Demi Allah, keledaimu itu kini bertambah kuat, " kata mereka.

Kami pun tiba di tempat tinggal kami di daerah Bani Sa'd. Aku pun tidak pernah melihat sepetak tanah pun milik kami yang lebih subur saat itu. Domba-domba kami menyongsong kedatangan kami dalan keadaan kenyang dan air susunya juga penuh berisi, sehingga kami bisa memerahnya dan meminumnya. Sementara setiap orang yang memerah susu hewannya sama sekali tidak mengeluarkan air susu walau hanya setetes pun dan kelenjar susunya juga kempes. Kami senantiasa mendapatkan  banyak berkah dan kebaikan dari Allah selama dua tahun menyusui anak susuan kami tersebut. Lalu kami menyapihnya. Dia tumbuh dengan sehat, tidak seperti bayi-bayi yang lain. Bahkan sebelum usia dua tahun pun dia sudah tumbuh pesat.

Hingga kami membawanya kembali kepada ibunya, meskipun kami masih berharap agar anak itu tetap berada bersama kami, karena kami bisa merasakan berkahnya. Kami pun menyampaikan niat ini kepada ibunya. Aku berkata kepadanya, "Andaikan saja engkau mau membiarkan anak ini tetap bersama kami hingga besar. Karena aku khawatir dia terserang penyakit yang biasa mewabah di Makkah." Kami terus merajuk kepada ibunya supaya dia berkenan mengembalikan anak itu tinggal bersama kami.

Begitulah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tinggal ditengah Bani Sa'd, hingga saat Beliau berumur empat atau lima tahun, terjadi pembelahan dada Beliau oleh Jibril. Pasca peristiwa pembelahan dada itu, Halimah merasa sangat khawatir terhadap keselamatan Muhammad, hingga akhirnya dia mengembalikan beliau kepada ibunya.

Itulah kisah pertama tentang susu kambing (dan juga susu unta) di jaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Untuk kisah selanjutnya ada di post berikutnya ya.

Semoga bermanfaat. Dari berbagai sumber.








Kamis, 29 Oktober 2015



Seorang balita perempuan usia tiga tahun di Jatiasih Bekasi meninggal setelah minum susu cair kemasan pagi tadi. Malam sebelum kejadian balita ini diajak menonton konser dangdut didekat rumahnya oleh sang nenek. Karena mungkin balita ini kecapekan diajak menonton konser dangdut malam-malam, akhirnya balita ini rewel. Oleh sang nenek dibelikanlah susu cair kemasan agar rewelnya berhenti. Tapi ternyata susu cair ini masih sisa dan tidak langsung habis. Lalu susu cair ini disimpan oleh sang nenek. Keesokan paginya balita ini demam lalu susu cair sisa semalam itupun diminumkan. Selang 15 menit balita ini kejang dan mengeluarkan busa. Balita malang ini dilarikan ke rumah sakit tapi naas sesampai disana balita ini akhirnya meninggal. Innalilallahi wainnailaihiraji'un...

Ayah balita (seorang pekerja serabutan sedangkan sang ibu tengah mendekam di rutan karena kasus narkoba) menolak untuk dilakukan autopsi terhadap jenazah putrinya. Sang ayah sudah merelakan karena ketidaktahuan sang nenek (balita ini diasuh oleh kakek dan neneknya). Ya, sang nenek tidak tahu (atau mungkin kurang paham) jika susu cair seperti itu sangat rentan tercemar bakteri apabila kemasan sudah dibuka. Apalagi dengan kondisi balita yang sedang demam seperti itu. Akhirnya kasus ini pun ditutup.

Susu cair kemasan biasanya adalah susu segar yang diproses secara Ultra High Temperature (UHT). Susu UHT merupakan susu yang diolah menggunakan pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang singkat (135-145 derjat Celcius) selama 2-5 detik (Amanatidis, 2002). Pemanasan dengan suhu tinggi bertujuan untuk membunuh seluruh mikroorganisme (baik pembusuk maupun patogen) dan spora. Waktu pemanasan yang singkat dimaksudkan untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu serta untuk mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif tidak berubah seperti susu segarnya.

Apabila kemasan susu UHT telah dibuka, maka susu tersebut harus disimpan pada refrigerator. Susu UHT harus dihindarkan dari penyimpanan pada suhu tinggi (di atas 50 derjat Celcius) karena dapat terjadi gelasi yaitu pembentukan gel akibat kerusakan protein.

Kerusakan susu UHT sangat mudah dideteksi secara visual, ciri utama yang umum terjadi adalah kemasan menggembung. Gembungnya kemasan terjadi akibat kebocoran kemasan yang memungkinkan mikroba-mikroba penbusuk tumbuh dan memfermentasi susu. Fermentasi susu oleh mikroba pembusuk menghasilkan gas CO2 yang menyebabkan gembung.

Kerusakan juga ditandai oleh timbulnya bau dan rasa yang masam. Selain menghasilkan gas, aktivitas fermentasi oleh mikroba pembusuk juga menghasilkan alkohol dan asam-asam organik yang menyebabkan susu menjadi berflavor dan beraroma masam.

Hindari mengkonsumsi susu UHT yang telah mengental. Fermentasi susu oleh bakteri pembusuk juga pembusuk juga menyebabkan koagulasi dan pemecahan protein akibat penurunan pH oleh asam-asam organic. Koagulasi dan pemecahan protein inilah yang menyebabkan tekstur susu rusak yaitu menjadi pecah dan agak kental.

Pun dengan susu kambing cair segar ini. Setelah pemerahan (maksimal 2-3 jam), susu kambing cair ini harus segera diolah atau jika tidak harus segera dimasukan ke dalam freezer agar susu tidak rusak dan kandungan tetap terjaga. Maka dari itu susu kambing cair ini berbentuk beku/frozen karena disimpan dulu di freezer. Susu kambing ini lebih bagus jika dikonsumsi mentah tanpa pemanasan terlebih dahulu. Karena jika dimasak terlebih dahulu dikhawatirkan lactobacillus-nya mati. Susu kambing cair frozen ini apabila akan dikonsumsi dicairkan terlebih dahulu dengan direndam dengan air biasa. Setelah kemasan dibuka harus langsung habis karena dikhawatirkan susu akan tercemar.

Jadi, tidak perlu khawatir untuk memberikan susu cair ke balita kita (terutama susu kambing ya, hehe...) asal ada ilmunya tentu saja. Semoga balita kita tumbuh sehat dan selalu dalam lindungan Allah, aamiin...

Selamat mengenalkan balita Anda dengan susu kambing cair ini... Semoga bermanfaat.



Kamis, 15 Oktober 2015



Perut yang terus membesar membuat saya malas untuk kemana-mana. Jangankan bepergian jauh, untuk ke depan beli kebutuhan harian saja rasanya malas sekali. Duduk santai, leha-leha dan tiduran justru menjadi hobi saya di akhir-akhir masa kehamilan. Padahal katanya kalau mendekati HPL dianjurkan jalan-jalan ya agar persalinan nya lancar. Tapi itu tidak saya temukan di diri saya pribadi, hehe... Meskipun begitu -alhamdulillah- persalinan saya tidak mengalami kendala. Hari persalinan saya justru maju sepekan dari HPL. Alhamdulillah...

Seperti pagi itu, suami mengajak saya ikut beli susu sapi segar di pasar yang berjarak 7 km dari rumah. Rasanya perut ini berat sekali tidak bisa diajak kompromi (alasan :D). Padahal biasanya saya paling semangat kalau diajak keluar, hehe... Akhirnya suamipun berangkat sendiri ke pasar. Tapi sepertinya ini bukan penjual yang biasanya kami beli. Sambil menakar susu, ibu penjual susu ini bilang,
"Buat kucing ya mas? Soalnya saya banyak pelanggan yang sering datang kesini untuk kucing mereka juga..."

Suami saya agak kaget dan heran. Lha wong susunya untuk istri yang sedang hamil di rumah tapi dikira buat minum kucing, hehe... Tapi suami hanya diam saja dan tersenyum simpul. Sesampai di rumah, suami langsung cerita ke saya tentang kejadian tadi. Dan dari situ saya baru tau, bahwa ternyata kucing pun minum susu segar (mungkin hewan peliharaan yang lain juga sama). Karena setau saya (orang kampung yang hanya mengenal kucing jawa, tidak pernah berinteraksi sama mba anggora dan mas persia :D) kucing ya minum air biasa, kalaupun ada anak kucing yang habis dilahirkan ya nenen induknya (bersyukur ya jadi kucing jawa, tidak pernah lepas dari kasih sayang induknya, loh? Hehe...)

Sampai beberapa waktu lalu ada seseorang yang menghubungi kami dan minta COD dua liter susu kambing cair segar ini. Sesampai disana (seorang ibu-ibu yang punya warung makan dan suami saya pun mendatangi warung makan tersebut) ada seorang pelanggan yang sedang duduk-duduk, lalu pelanggan ibu ini tanya,
"Itu apa mas?" Sambil jarinya menujuk steorofom berisi susu yang dibawa suami.
"Susu kambing cair segar pak tapi ini sudah dibekukan jadi berbentuk frozen."
"Ooh... Setau saya susu kambing itu berwujud bubuk ternyata ada yang cair juga ya. Buat apa mas?"
Suami sedikit bingung tapi langsung dijawab, "Untuk memperlancar ASI." Suami reflek dengan jawaban itu karena ingat khasiat susu kambing ini bagi saya pribadi.

Tiba-tiba ibu yang pesan susu (pemilik warung makan) menimpali dengan nada yang seperti tidak enak, "Errr... Bukan mas, susu-susu itu untuk hewan peliharaan saya..."
Wuiiinggg... Suami saya agak kaget, tapi hanya bilang "Oo..." manggut-manggut. Lalu ibu ini cerita kalau hewan peliharaannya agak susah untuk minum susu. Susu apapun pernah dicoba tapi hasilnya nihil. Barulah dengan susu kambing cair segar ini bisa cocok.

Lihatlah, ternyata kucing pun tidak sembarangan memilih asupan yang akan dicernanya. Terkadang kita memang harus belajar dari lingkungan sekitar, tidak terkecuali dengan hewan yang dianggap sebagai pengganggu. Seperti misalnya lalat. Rasanya jengkel ketika melihat makanan yang kita simpan sudah keduluan dihinggapi lalat. Pasti ada saja cara kita untuk menghalau lalat-lalat itu agar tidak hinggap di makanan kita. Tapi tahukah Anda bahwa lalat pun memilih makanan apa yang akan dihinggapinya? Ya, lalat paling 'ogah' hinggap di makanan yang penuh 'rekayasa'. Maka dari itu terkadang kalau saya membeli ayam potong atau ikan segar di tempat penjual, saya lebih memilih tempat yang ada lalat di sekitarnya. Tapi tentu saja pilih barangnya yang bebas hinggapan lalat dong ya :D

Artinya apa? Bahwa hewan justru mempunyai insting yang lebih peka dibanding manusia. Mereka para hewan yang tidak punya akal akan memilih sesuatu yang alami tanpa rekayasa. Beda dengan manusia yang dikarunia akal oleh Allah untuk bisa memilih. Ada ikan digoreng biasa tanpa ada tambahan bumbu apapun. Dengan kemampuan akal yang dimilikinya, manusia pasti akan mencari cara agar ikan goreng itu tidak terkesan monoton. Bisa dengan direndam air garam dulu sebelum digoreng lalu dicocol sambal sebelum disantap. Jangan lupa itu nasi hangat lalapan sudah ada disampingnya. Bayangkan jika seekor hewan yang menghadapinya, misalnya kucing. Boro-boro dicuci dulu, yang ada juga langsung dilahap, hehe...

Sama dengan kasus susu segar diatas. Kucing dengan segala sisi kehewanannya lebih memilih susu segar yang murni alami tanpa tambahan apapun. Beda dengan manusia. Si manusia tidak suka susu tapi apa mau dikata dia harus minum susu sesuai anjuran dokter agar penyakit yang dideritanya cepat pulih misalnya. Pasti si manusia akan mencari segala cara agar bisa minum susu ini. Entah dengan minum susu yang ada varian rasa tambah madu tambah gula supaya 'rasa susu'nya bisa hilang. Atau bisa dengan memilih produk olahan susu yang bisa menghapus image minum susu secara klasik :D.

Tuh lihat, kucing saja bisa memilih susu segar yang murni kan? ;)

Susu identik dengan anak kucing. Banyak pemula yang hanya memberikan susu sebagai makanan pada anakan kucing yang baru dimilikinya. Susu memang makanan padat nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh anakan kucing yang belum bisa memakan makanan padat yang dimakan oleh kucing dewasa. Tapi tahukah Anda bahwa tidak semua susu dapat dicerna oleh kucing?

Susu yang tidak dapat dicerna oleh kucing adalah susu yang berlaktosa seperti susu sapi segar ataupun produk sampingannya. Laktosa adalah gula susu yang merupakan salah satu komponen khas dalam susu bersama dengan trigliserida (lemak susu) dan kasein (protein susu). Kandungan laktosa sekitar 4,6% dalam susu. Untuk mencerna laktosa maka pencernaan harus menggunakan enzim laktase yaitu salah satu enzim pencernaan yang diproduksi oleh sel-sel di usus kecil yang bertugas memecah gula susu menjadi bentuk yang lebih mudah untuk diserap ke dalam tubuh. Sayangnya, pencernaan yang dimiliki oleh kucing tidak dapat memproduksi enzim ini sehingga laktosa tidak terurai, butiran laktosa akan tertinggal di muka lubang usus halus dan menyerap banyak air dari sekitarnya sehingga menimbulkan diare. Ada kalanya sebelum keluar, ia tertahan di kolon dan diurai oleh bakteri penghasil gas (CH4, CO2, H2). Akibatnya, perut menjadi kembung, nyeri lambung, hingga diare.

Ada beberapa pencernaan kucing yang akhirnya menjadi kebal terhadap laktosa. kucing tidak mengalami diare ataupun perut kembung. Hal ini bukan berarti baik karena pencernaan kucing mengalami gangguan yang tidak terlihat sehingga fungsi kerjanya menurun. Kucing tidak dapat mencerna dan menyerap nutrisi dengan maksimal sehingga harus diberikan makanan dengan jumlah yang lebih banyak daripada yang seharusnya. Akibatnya kucing akan kehilangan berat badan dan malnutrisi.

Jadi, apakah pemberian susu harus dihindari?

Setiap jenis susu pasti mengandung laktosa, tetapi ada susu yang mengandung lebih sedikit laktosa sehingga dapat dikonsumsi oleh kucing. Susu berlaktosa yang dapat dikonsumsi oleh kucing adalah susu yang mengandung protein alpha S1-casein yang rendah yaitu susu yang berasal dari hewan kambing.

Selamat mengenalkan susu kambing segar cair ini ke kucingnya ya... Semoga bermanfaat.





Selasa, 13 Oktober 2015



Oktober semangat. Alhamdulillah sudah memasuki bulan Oktober. Saat saya berjibaku dengan tulisan ini Alhamdulillah sudah memasuki Tahun Baru Hijriyah 1437 H. Malam satu Suro kalau orang Jawa menyebutnya. Ada apakah dengan malam satu Suro? Ada artikel menarik yang saya dapatkan dari majalah Ar-risalah edisi bulan ini yakni Edisi 172 bulan Dzulhijjah-Muharram 1437 H.

Judulnya : Amalan Bid'ah vs Amalan Sunah di Bulan Muharram 

Muharram adalah bulan yang mulia, hingga Allah menjadikan bulan tersebut sebagai salah satu bulan haram. Maknanya di bulan tersebut diharamkan melakukan pertumpahan darah (perang).

Empat bulan haram itu dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya :
"Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bukannya berturut-turut  yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya'ban." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam penanggalan tahun Jawa, bulan Muharram dikenal dengan sebutan bulan Sura. Sudah menjadi 'keyakinan' bagi sebagian masyarakat Indonesia -Jawa khususnya- bahwa bulan Muharram atau bulan Sura adalah bulan keramat. Masih ada keyakinan a keyakinan serta ritual atau amalan-amalan 'nyleneh' yang dilakukan menjelang dan selama bulan Sura, diantaranya:

Siramana malam satu Sura, yaitu mandi besar dengan menggunakan air serta dicampur kembang setaman. Tapa mbisu, yaitu tidak bicara ketika berjalan mengelilingi kraton. Jamasan (mencuci) pusaka dan mengaraknya mengelilingi kraton. Ruwatan, yang berarti pembersihan dari sukerta atau kekotoran. Juga berziarah ke beberapa makam yang dianggap keramat.

Pada bulan itu mereka tidak berani mengadakan  acara pernikahan. Karena menurut klaim mereka pernikahan yang dilangsungkan pada bulan Muharram kerap mendatangkan sial bagi pasangan, seperti perceraian, kematian, tidak harmonis, dililit hutang dan sebagainya. Bahkan, banyak yang menyampaikan alasan yang tidak masuk akal. Misalnya, pada bulan Suralah penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul, melangsungkan hajat pernikahan.

Semua keyakinan dan amalan tersebut tidak ada satupun dalilnya dari Al Qur'an dan Sunah juga salaf shaleh, sehingga akan terjerumus kedalam lobang kebid'ahan dan kesyirikan.

KEMULIAAN BULAN MUHARRAM 
Islam menyebut bulan Muharram sebagai syahrullah (bulan Allah). Rasulullah bersabda,
"Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharram.  Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR. Muslim)

Bulan ini istimewa karena disebut dengan syahrullah yaitu bulan Allah. Az Zamakhsyari mengatakan, "Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafal jalalah 'Allah' untuk menunjukan mulia dan agungny bulan tersebut."

Hasan al-Bashri berkata, "Sesungguhnya Allah membuka awal tahun dengan bulan haram dan menutup akhir tahun dengan bulan haram pula. Tidak ada bulan agung disisi Allah setelah Ramadhan dibandingkan dengan bulan Muharram"
Abu Utsman An Nah di mengatakan:
"Para salaf mengagungkan tiga waktu dari sepuluh hari yang utama:  sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan sepuluh hari pertama bulan Muharram."

Mendapati bila  Muharram merupakan kenikmatan tersendiri bagi seorang mukmin. Karena bulan ini sarat dengan pahala dan ladang beramal bagi orang yang bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan hari esoknya.

Berikut ini amalan-amalan sunah yang dianjurkan di bulan ini :

PERBANYAK AMALAN SHALIH DAN JAUHI MAKSIAT 
Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu berkata tentang tafsir Surat at-Taubah ayat 36, "...maka janganlah kalian menzalimi diri kalian..." Allah telah mengkhususkan empat bulan  dari kedua belas bulan  tersebut. Dan Allah menjadikannya sebagai bulan suci, mengagungkan  kemuliaan-kemuliaannya, menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan tersebut lebih besar (dari bulan-bulan lainnya) serta memberikan pahala (yang lebih besar) dengan amalan-amalan shalih."

Mengingat besarnya pahala yang diberikan  oleh Allah melebihi bila  selainnya, hendaknya kita perbanyak amalan-amalan ketaatan pada bulan Muharram ini dengan membaca Al Qur'an, berdzikir, shadaqah, puasa dan lainnya.

Selain memperbanyak amalan ketaatan, tak lupa untuk menjauhi maksiat kepada Allah dikarenakan dosa pada bulan-bulan haram lebih besar dibanding dengan dosa-dosa selain bulan haram.

Qatadah rahimahullah juga mengatakan, "Sesungguhnya kezaliman pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada kezaliman yang dilakukan di luar bulan-bulan haram tersebut. Meskipun kezaliman pada setiap kondisi adalah perkara yang besar, akan tetapi Allah menjadikan sebagian dari perkara menjadi agung sesuai dengan kehendaknya."

MELAKSANAKAN PUASA 
Rasulullah bersabda, "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram."

Maksud puasa disini adalah puasa secara mutlak. Dan minimal nya bagi kita tidak meninggalkan puasa Assyura yang merupakan  kebiasaan para salaf.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu, sesungguhnya Rasulullah melakukan puasa Assyura dan memerintahkan para sahabat untuk melakukannya." (Muttafaq 'alaih)

Sedangkan mengenai pahalanya termaktub dalam sebuah hadits, "Sesungguhnya Rasulullah ditanya tentang pahala puasa Assyura maka beliau bersabda, "Akan menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim).

Cara melakukannya sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Utsaimin. Ia menyebutkan bahwa para ulama, diantaranya Ibnuk Qayyim, membagi puasa ke dalam tiga tingkatan:
1. Berpuasa tanggal 9 & 10 Muharram dan ini yang paling utama. Karena Rasulullah bersabda, "Kalau aku masih hidup tahun depan niscaya aku akan berpuasa pada tanggal 9 (Muharram)." (HR. Muslim)
2. Puasa tanggal 10 & 11 Muharram, agar menyelisihi puasanya orang-orang Yahudi.
3. Puasa pada tanggal 10 Muharram saja dan ini hukumnya makruh menurut sebagian ulama karena akan menyerupai puasanya orang Yahudi. Tapi ada ulama lain yang membilehkannya meskipun  pahalanya tidak sempurna jika digandengkan dengan puasa sehari sebelumnya (tanggal 9 Muharram).

Semoga kita dapat memuliakan bulan Muharram dengan rangkaian ibadah sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Aamiin...

Semoga bermanfaat.